Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan

5.08.2011

RED CLIFF, an Awesome Epic War Film!

Diposting oleh mii di 01.36 0 komentar

Entah kenapa ada yang menarik banget dari film ini. Padahal sebelumnya aku jarang nonton film kolosal—apalagi Cina, karena emang nggak suka. Tapi waktu pertama liat film ini tayang di sebuah stasiun TV nasional kita (yang part 1), itu saluran nggak aku ganti. Awalnya sih karna liat muka Takejii (Kaneshiro Takeshi) di situ xD. Tapi jujur bukan cuma karna itu. Semakin lama aku tonton, emang banyak hal-hal yang menarik di sana.

Red Cliff mengisahkan perang yang terjadi di masa akhir Dinasti Han (208-209 M). Dimulai oleh pasukan Perdana Menteri Cao Cao (Zhang Fengyi) yang menyerang wilayah barat yang dikuasai Liu Bei (Anda Yong). Pertempuran itu dimenangkan oleh Cao Cao, sehingga Liu Bei dan rakyatnya tepaksa mengungsi dan meminta perlindungan pada wilayah timur Wu. Kemudian atas saran Zhuge Liang (Kaneshiro Takeshi), penasihat Liu Bei, koalisi terjalin antara Liu Bei dengan pemimpin wilayah timur, Sun Quan (Chang Chen). Mereka sepakat beraliansi untuk menyerang Cao Cao, dan pasukan mereka dipimmpin oleh jendral serta panglima hebat, Gan Xing (Nakamura Shido) dan Zhou Yu (Tony Leung). Karena jumlah prajurit mereka terlalu sedikit dibandingkan pasukan Cao Cao, Zhuge dan Zhou harus membuat strategi jitu untuk mengalahkannya. Termasuk mengirim Sun Shangxiang (Vicky Zhao), adik Sun Quan, untuk menjadi mata-mata di wilayah musuh.

Di tengah cerita, diketahui bahwa penyerangan Cao Cao di Jurang Merah adalah karena wanita. Cao Cao memiliki sebuah lukisan wanita cantik di ruangannya, dan ternyata lukisan itu adalah Xiao Qiao (Lin Chi-ling), istri Zhou Yu. Sehingga sebelum perang di atas Sungai Yangtse itu dimulai, Xiao Qiao datang menemui Cao Cao (tanpa sepengetahuan suaminya) untuk memintanya menghentikan perang. Tapi Cao Cao berkilah bahwa ambisinya bukan karena wanita itu. Dia akan tetap berperang, karena pertempuran itu mengorbankan kehormatan dirinya. Dalam pertempuran kali ini, angin menguntungkan pasukan Zhou Yu. Pasukannya menyerang dengan api, dan membakar habis pasukan Cao Cao. Perdana Menteri itu kalah, dan diusir dari wilayah itu. Zhou Yu dengan besar hati tidak menghukum mati dirinya, karena bukan kekuasaan yang diincarnya.

Film ini mengingatkan aku pada film kolosal juga, Troy. Sama-sama film perang, dan sama-sama menayangkan strategi perang yang luar biasa. Tapi buatku, taktik yang dipake sama para sesepuh bangsa Cina di film ini lebih keren dan lebih cerdas. Kalo Troy terkenal dengan taktik Trojan Horse untuk menembus benteng Kerajaan Troya, nah di Red Cliff pake taktik angin untuk menaklukan pasukan Perdana Menteri Cao Cao. Nggak hanya itu, masih banyak taktik-taktik lain yang bikin kita mangap kagum. Seperti taktiknya Zhuge Liang untuk mendapatkan 100.000 panah musuh. Trus taktik pertahanan yang dipake Zhou Yu waktu diserang pasukan Cao Cao di wilayahnya, padahal Zhuge Liang sempat mencibir kalo itu taktik kuno. Ternyata berhasil, dan malah mampu memukul mundur pasukan Cao Cao.

Selain strategi-strategi cerdas itu, banyak juga nilai-nilai humanis dan patriotis dalam film ini. Seperti kita bisa mengenal bagaimana budaya bangsa Cina lewat seni minum teh yang ternyata memiliki makna khusus. Kemudian seni bermusik yang bisa menjadi media komunikasi antara yang satu dengan yang lainnya, seperti dalam adegan di part 1 antara Zhuge Liang dan Zhou Yu saat memetik alat musik mereka (aduh saya nggak tau namanya, mungkin kalo di Jepang semacam koto, kalo di Indo ya kecapi gitu deh). Dan semangat patriotisme yang muncul bisa dilihat dari perjuangan rela mati dari masing-masing pasukan. Meski begitu, film ini juga memuat unsur cinta damai. Kekuatan serta kekuasaan yang diibaratkan bagai sebilah pedang yang menghunus, tidak lebih indah dari kedamaian. Makanya film ini ditutup dengan klimaks yang bagus, yang menggaris-bawahi sebuah perdamaian; Zhou Yu datang bersama istrinya Xiao Qiao membawa Mengmeng yang telah besar (kuda yang dulu proses kelahirannya yang sungsang dibantu Zhuge Liang) ke padang rumput, dan memberikannya pada Zhuge Liang untuk dilepaskan. Sebelum berpisah Xiao Qiao berkata, “Jangan jadikan Mengmeng sebagai kuda perang ya!” Akhir sebuah film perang yang indah banget!

Dan aku paling suka dan paling tersentuh sama adegan di mana Cao Cao berhasil dikalahkan. Tapi saat itu yang dikatakan Zhou Yu adalah, “Tidak ada kemenangan di sini.” Jelas banget bahwa inti dari perang itu bukanlah perebutan kekuasaan, tapi lebih kepada mempertahankan kedamaian. Karena bagaimanapun alasannya, perang hanya meninggalkan kehilangan dan kepedihan atas orang-orang yang jadi korban.

Sang sutradara, John Woo, mengatakan isi cerita Red Cliff ini nggak sepenuhnya berdasarkan sejarah, cuma 50%-nya aja. Selebihnya adalah improvisasi dari si sutradara sendiri. Woo memutuskan mengubah cerita dengan mencampurkan perasaan modern dan perasaannya sendiri untuk kesan yang lebih menduniawi. Menurutnya, akurasi sejarah tidaklah lebih penting ketimbang perasaan penonton tentang pertempuran. Aku rasa teori John Woo berhasil. Dari benang merah sejarah pertempuran di Jurang Merah, film ini semakin kaya dengan pencampuran drama hasil olahan Woo, sehingga memberi kesan warna-warni dalam film ini. Nggak melulu tentang pertumpahan darah; ambisi terhadap kekuasaan, tapi juga dihiasi unsur drama yang lebih humanis dan nggak monoton.

Satu film bagus buatmu yang mungkin belom nonton Red Cliff!



sumber: wikipedia

8.03.2010

Inception: About Dream, the Dreamer, and the Way to Back to the Reality

Diposting oleh mii di 01.53 0 komentar
Sebuah film science-fiction yang berhasil menduduki puncak box office dan jadi trending topic di berbagai situs web maupun jejaring sosial. Apa lagi kalo bukan Inception! Film yang lahir dari otak brilliant sang sutradara, Christopher Nolan, dan dibintangi aktor kenamaan Leonardo DiCaprio.

Menceritakan tentang Dom Cobb (Leonardo DiCaprio), yang bisa masuk ke dalam mimipi seseorang untuk melakukan kejahatan, seperti mencuri rahasia besar atau bahkan menanamkan ide untuk mempengaruhi pikiran sang korban lewat alam bawah sadarnya. Dalam misinya, Cobb ditemani Arthur (Joseph Gordon-Levitt), Eames (Tom Hardy) yang mampu menyamar dan mengimitasi perilaku seseorang, Yusuf (Dileep Rao) si peramu kimia-bius, dan Ariadne (Ellen Page) sang arsitek yang merancang visual dan tata kota dalam mimpi.

Cobb memang penjahat mimpi yang cerdas dan sulit dilawan. Namun setiap kali misinya hampir berhasil, almarhum sang istri, Mal (Marion Cotillard), selalu datang untuk menggagalkannya. Masalah itu terkait dengan memori masa lalu Cobb yang membuatnya sulit menemui anak-anaknya di dunia nyata. Saito (Ken Watanabe) mengajukan sebuah tawaran dengan janji mengembalikan Cobb pada kedua anaknya. Dengan syarat, Cobb dkk melaksanakan misi menanamkan ide (inception) dalam kepala Robert Fischer (Cillian Murphy), ahli waris pengusaha multi-miliuner yang menjadi saingan utama Saito. Cobb harus membuat Fischer meninggalkan bisnis ayahnya dengan alasan-alasan emosional.

Inception memang film yang keren banget! Mulai dari segi cerita, visual efek, ilustrasi musik, pokoknya semua keren bagi saya! Film ini nggak cuma bikin mata saya nggak lepas dari layar, tapi juga bikin saya harus menahan napas saking tegangnya, atau melongo terheran-heran melihat adegan yang bener-bener seperti sebuah mimpi. Bayangkan sebuah kota bisa terlipat layaknya kertas, atau daya grafitasi hilang sehingga membuat ruang dalam hotel bisa seperti ruang dalam space ship!

Nggak sekedar memamerkan kehebatan visual efeknya, Inception juga memberi kita pelajaran berharga. Seperti Mal dan Cobb yang membangun dunia dalam mimpi, dunia yang dipenuhi dengan harapan-harapan mereka di dunia nyata. Terlalu lama menikmati dunia mimpinya, Mal nggak lagi mampu membedakan mana dunia nyata dan mana mimpi. Sehingga akhirnya dia memutuskan bunuh diri untuk terjebak selamanya di dunia mimpi.

Bermimpi bukan hal yang dilarang. Tiap orang bebas bermimpi sehebat apapun. Namun, jangan pernah lupa untuk bangun. Kenyataan memang kadang terasa menyakitkan. Tapi bukankah tidak bisa membedakan dunia nyata dengan mimpi adalah hal yang lebih menyakitkan?


picture from techpinger.com

8.18.2009

Harry Potter and the Half-Blood Prince

Diposting oleh mii di 01.18 0 komentar
Setelah terpaut kurang lebih satu setengah tahun dari filmnya yang kelima, akhirnya Harry Potter and the Half Blood Prince rilis. Sejak minggu pertama dirilisnya film ini, pemesanan tiket di berbagai bioskop melonjak. Tiket sudah habis dipesan sampai satu bahkan dua minggu ke depan. Tapi siapa yang sangka film yang keenam ini cukup mengecewakan, setidaknya bagi saya, beberapa orang teman saya juga merasa demikian.

Cerita yang dibangun memang masih terkait erat dengan bukunya. Tapi banyak bagian penting yang tidak dimunculkan dalam film. Salah satunya adalah pertempuran yang terjadi di menara kastil Hogwart pada malam terbunuhnya Professor Dumbledore. Dalam film, tugas Draco Malfoy untuk membunuh Dumbledore yang tidak bisa dilakukannya langsung diambil alih Snape. Setelah Dumbledore jatuh dan tewas, kelompok Pelahap Maut pergi dan Harry mengejarnya. Pertarungannya dengan Snape hanya sebentar. Lalu endingnya, tidak ada upacara pemakaman Dumbledore di tepi danau. Digantikan dengan pembicaraan antara Harry, Hermione, dan Ron mengenai kalung Horcrux palsu di menara kastil.

Alur ceritanya berjalan lambat, membuat penontonnya bosan. Selain itu, tiap scene-nya terasa terlalu singkat. Sehingga seperti ada bagian yang hilang antara scene yang satu dengan yang lainnya. Mungkin film ini berhasil menarik perhatian kembali saat adegan kissing antara Harry dan Giny :)
Special effect yang biasanya muncul secara luar biasa di lima film sebelumnya, tidak terlalu nampak di film ini. Karena memang cuma sedikit adegan yang bisa diberi efek. Pertandingan Quidditch salah satunya. Sayangnya bagian ini cuma muncul dalam durasi yang pendek.

Overall, saya kasih nilai 6 buat film ini. Nilai plusnya adalah unsur komedi yang masih cukup terasa. Seperti biasa, bagaimanapun kondisinya, Ron selalu bisa mencairkan suasana :)
Saya memang selalu suka keluarga Weasley. Tapi sayang tokoh favorit saya, Si Kembar Fred dan George cuma muncul di satu scene T-T

Saya harap film ketujuh nanti bisa jauh lebih baik dari ini. Apalagi itu adalah cerita puncaknya, tidak boleh mengecewakan. Dari rumor yang saya dengar, cerita ketujuh nanti dibuat 2 part. Hm… tidak masalah! Kalau memang ceritanya tidak bisa dibuat singkat, memang lebih bagus dibuat 2 part. Yosh!! Saya tunggu Harry Potter and the Deathly Hollow.
Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review film. Tampilkan semua postingan

5.08.2011

RED CLIFF, an Awesome Epic War Film!

Diposting oleh mii di 01.36 0 komentar

Entah kenapa ada yang menarik banget dari film ini. Padahal sebelumnya aku jarang nonton film kolosal—apalagi Cina, karena emang nggak suka. Tapi waktu pertama liat film ini tayang di sebuah stasiun TV nasional kita (yang part 1), itu saluran nggak aku ganti. Awalnya sih karna liat muka Takejii (Kaneshiro Takeshi) di situ xD. Tapi jujur bukan cuma karna itu. Semakin lama aku tonton, emang banyak hal-hal yang menarik di sana.

Red Cliff mengisahkan perang yang terjadi di masa akhir Dinasti Han (208-209 M). Dimulai oleh pasukan Perdana Menteri Cao Cao (Zhang Fengyi) yang menyerang wilayah barat yang dikuasai Liu Bei (Anda Yong). Pertempuran itu dimenangkan oleh Cao Cao, sehingga Liu Bei dan rakyatnya tepaksa mengungsi dan meminta perlindungan pada wilayah timur Wu. Kemudian atas saran Zhuge Liang (Kaneshiro Takeshi), penasihat Liu Bei, koalisi terjalin antara Liu Bei dengan pemimpin wilayah timur, Sun Quan (Chang Chen). Mereka sepakat beraliansi untuk menyerang Cao Cao, dan pasukan mereka dipimmpin oleh jendral serta panglima hebat, Gan Xing (Nakamura Shido) dan Zhou Yu (Tony Leung). Karena jumlah prajurit mereka terlalu sedikit dibandingkan pasukan Cao Cao, Zhuge dan Zhou harus membuat strategi jitu untuk mengalahkannya. Termasuk mengirim Sun Shangxiang (Vicky Zhao), adik Sun Quan, untuk menjadi mata-mata di wilayah musuh.

Di tengah cerita, diketahui bahwa penyerangan Cao Cao di Jurang Merah adalah karena wanita. Cao Cao memiliki sebuah lukisan wanita cantik di ruangannya, dan ternyata lukisan itu adalah Xiao Qiao (Lin Chi-ling), istri Zhou Yu. Sehingga sebelum perang di atas Sungai Yangtse itu dimulai, Xiao Qiao datang menemui Cao Cao (tanpa sepengetahuan suaminya) untuk memintanya menghentikan perang. Tapi Cao Cao berkilah bahwa ambisinya bukan karena wanita itu. Dia akan tetap berperang, karena pertempuran itu mengorbankan kehormatan dirinya. Dalam pertempuran kali ini, angin menguntungkan pasukan Zhou Yu. Pasukannya menyerang dengan api, dan membakar habis pasukan Cao Cao. Perdana Menteri itu kalah, dan diusir dari wilayah itu. Zhou Yu dengan besar hati tidak menghukum mati dirinya, karena bukan kekuasaan yang diincarnya.

Film ini mengingatkan aku pada film kolosal juga, Troy. Sama-sama film perang, dan sama-sama menayangkan strategi perang yang luar biasa. Tapi buatku, taktik yang dipake sama para sesepuh bangsa Cina di film ini lebih keren dan lebih cerdas. Kalo Troy terkenal dengan taktik Trojan Horse untuk menembus benteng Kerajaan Troya, nah di Red Cliff pake taktik angin untuk menaklukan pasukan Perdana Menteri Cao Cao. Nggak hanya itu, masih banyak taktik-taktik lain yang bikin kita mangap kagum. Seperti taktiknya Zhuge Liang untuk mendapatkan 100.000 panah musuh. Trus taktik pertahanan yang dipake Zhou Yu waktu diserang pasukan Cao Cao di wilayahnya, padahal Zhuge Liang sempat mencibir kalo itu taktik kuno. Ternyata berhasil, dan malah mampu memukul mundur pasukan Cao Cao.

Selain strategi-strategi cerdas itu, banyak juga nilai-nilai humanis dan patriotis dalam film ini. Seperti kita bisa mengenal bagaimana budaya bangsa Cina lewat seni minum teh yang ternyata memiliki makna khusus. Kemudian seni bermusik yang bisa menjadi media komunikasi antara yang satu dengan yang lainnya, seperti dalam adegan di part 1 antara Zhuge Liang dan Zhou Yu saat memetik alat musik mereka (aduh saya nggak tau namanya, mungkin kalo di Jepang semacam koto, kalo di Indo ya kecapi gitu deh). Dan semangat patriotisme yang muncul bisa dilihat dari perjuangan rela mati dari masing-masing pasukan. Meski begitu, film ini juga memuat unsur cinta damai. Kekuatan serta kekuasaan yang diibaratkan bagai sebilah pedang yang menghunus, tidak lebih indah dari kedamaian. Makanya film ini ditutup dengan klimaks yang bagus, yang menggaris-bawahi sebuah perdamaian; Zhou Yu datang bersama istrinya Xiao Qiao membawa Mengmeng yang telah besar (kuda yang dulu proses kelahirannya yang sungsang dibantu Zhuge Liang) ke padang rumput, dan memberikannya pada Zhuge Liang untuk dilepaskan. Sebelum berpisah Xiao Qiao berkata, “Jangan jadikan Mengmeng sebagai kuda perang ya!” Akhir sebuah film perang yang indah banget!

Dan aku paling suka dan paling tersentuh sama adegan di mana Cao Cao berhasil dikalahkan. Tapi saat itu yang dikatakan Zhou Yu adalah, “Tidak ada kemenangan di sini.” Jelas banget bahwa inti dari perang itu bukanlah perebutan kekuasaan, tapi lebih kepada mempertahankan kedamaian. Karena bagaimanapun alasannya, perang hanya meninggalkan kehilangan dan kepedihan atas orang-orang yang jadi korban.

Sang sutradara, John Woo, mengatakan isi cerita Red Cliff ini nggak sepenuhnya berdasarkan sejarah, cuma 50%-nya aja. Selebihnya adalah improvisasi dari si sutradara sendiri. Woo memutuskan mengubah cerita dengan mencampurkan perasaan modern dan perasaannya sendiri untuk kesan yang lebih menduniawi. Menurutnya, akurasi sejarah tidaklah lebih penting ketimbang perasaan penonton tentang pertempuran. Aku rasa teori John Woo berhasil. Dari benang merah sejarah pertempuran di Jurang Merah, film ini semakin kaya dengan pencampuran drama hasil olahan Woo, sehingga memberi kesan warna-warni dalam film ini. Nggak melulu tentang pertumpahan darah; ambisi terhadap kekuasaan, tapi juga dihiasi unsur drama yang lebih humanis dan nggak monoton.

Satu film bagus buatmu yang mungkin belom nonton Red Cliff!



sumber: wikipedia

8.03.2010

Inception: About Dream, the Dreamer, and the Way to Back to the Reality

Diposting oleh mii di 01.53 0 komentar
Sebuah film science-fiction yang berhasil menduduki puncak box office dan jadi trending topic di berbagai situs web maupun jejaring sosial. Apa lagi kalo bukan Inception! Film yang lahir dari otak brilliant sang sutradara, Christopher Nolan, dan dibintangi aktor kenamaan Leonardo DiCaprio.

Menceritakan tentang Dom Cobb (Leonardo DiCaprio), yang bisa masuk ke dalam mimipi seseorang untuk melakukan kejahatan, seperti mencuri rahasia besar atau bahkan menanamkan ide untuk mempengaruhi pikiran sang korban lewat alam bawah sadarnya. Dalam misinya, Cobb ditemani Arthur (Joseph Gordon-Levitt), Eames (Tom Hardy) yang mampu menyamar dan mengimitasi perilaku seseorang, Yusuf (Dileep Rao) si peramu kimia-bius, dan Ariadne (Ellen Page) sang arsitek yang merancang visual dan tata kota dalam mimpi.

Cobb memang penjahat mimpi yang cerdas dan sulit dilawan. Namun setiap kali misinya hampir berhasil, almarhum sang istri, Mal (Marion Cotillard), selalu datang untuk menggagalkannya. Masalah itu terkait dengan memori masa lalu Cobb yang membuatnya sulit menemui anak-anaknya di dunia nyata. Saito (Ken Watanabe) mengajukan sebuah tawaran dengan janji mengembalikan Cobb pada kedua anaknya. Dengan syarat, Cobb dkk melaksanakan misi menanamkan ide (inception) dalam kepala Robert Fischer (Cillian Murphy), ahli waris pengusaha multi-miliuner yang menjadi saingan utama Saito. Cobb harus membuat Fischer meninggalkan bisnis ayahnya dengan alasan-alasan emosional.

Inception memang film yang keren banget! Mulai dari segi cerita, visual efek, ilustrasi musik, pokoknya semua keren bagi saya! Film ini nggak cuma bikin mata saya nggak lepas dari layar, tapi juga bikin saya harus menahan napas saking tegangnya, atau melongo terheran-heran melihat adegan yang bener-bener seperti sebuah mimpi. Bayangkan sebuah kota bisa terlipat layaknya kertas, atau daya grafitasi hilang sehingga membuat ruang dalam hotel bisa seperti ruang dalam space ship!

Nggak sekedar memamerkan kehebatan visual efeknya, Inception juga memberi kita pelajaran berharga. Seperti Mal dan Cobb yang membangun dunia dalam mimpi, dunia yang dipenuhi dengan harapan-harapan mereka di dunia nyata. Terlalu lama menikmati dunia mimpinya, Mal nggak lagi mampu membedakan mana dunia nyata dan mana mimpi. Sehingga akhirnya dia memutuskan bunuh diri untuk terjebak selamanya di dunia mimpi.

Bermimpi bukan hal yang dilarang. Tiap orang bebas bermimpi sehebat apapun. Namun, jangan pernah lupa untuk bangun. Kenyataan memang kadang terasa menyakitkan. Tapi bukankah tidak bisa membedakan dunia nyata dengan mimpi adalah hal yang lebih menyakitkan?


picture from techpinger.com

8.18.2009

Harry Potter and the Half-Blood Prince

Diposting oleh mii di 01.18 0 komentar
Setelah terpaut kurang lebih satu setengah tahun dari filmnya yang kelima, akhirnya Harry Potter and the Half Blood Prince rilis. Sejak minggu pertama dirilisnya film ini, pemesanan tiket di berbagai bioskop melonjak. Tiket sudah habis dipesan sampai satu bahkan dua minggu ke depan. Tapi siapa yang sangka film yang keenam ini cukup mengecewakan, setidaknya bagi saya, beberapa orang teman saya juga merasa demikian.

Cerita yang dibangun memang masih terkait erat dengan bukunya. Tapi banyak bagian penting yang tidak dimunculkan dalam film. Salah satunya adalah pertempuran yang terjadi di menara kastil Hogwart pada malam terbunuhnya Professor Dumbledore. Dalam film, tugas Draco Malfoy untuk membunuh Dumbledore yang tidak bisa dilakukannya langsung diambil alih Snape. Setelah Dumbledore jatuh dan tewas, kelompok Pelahap Maut pergi dan Harry mengejarnya. Pertarungannya dengan Snape hanya sebentar. Lalu endingnya, tidak ada upacara pemakaman Dumbledore di tepi danau. Digantikan dengan pembicaraan antara Harry, Hermione, dan Ron mengenai kalung Horcrux palsu di menara kastil.

Alur ceritanya berjalan lambat, membuat penontonnya bosan. Selain itu, tiap scene-nya terasa terlalu singkat. Sehingga seperti ada bagian yang hilang antara scene yang satu dengan yang lainnya. Mungkin film ini berhasil menarik perhatian kembali saat adegan kissing antara Harry dan Giny :)
Special effect yang biasanya muncul secara luar biasa di lima film sebelumnya, tidak terlalu nampak di film ini. Karena memang cuma sedikit adegan yang bisa diberi efek. Pertandingan Quidditch salah satunya. Sayangnya bagian ini cuma muncul dalam durasi yang pendek.

Overall, saya kasih nilai 6 buat film ini. Nilai plusnya adalah unsur komedi yang masih cukup terasa. Seperti biasa, bagaimanapun kondisinya, Ron selalu bisa mencairkan suasana :)
Saya memang selalu suka keluarga Weasley. Tapi sayang tokoh favorit saya, Si Kembar Fred dan George cuma muncul di satu scene T-T

Saya harap film ketujuh nanti bisa jauh lebih baik dari ini. Apalagi itu adalah cerita puncaknya, tidak boleh mengecewakan. Dari rumor yang saya dengar, cerita ketujuh nanti dibuat 2 part. Hm… tidak masalah! Kalau memang ceritanya tidak bisa dibuat singkat, memang lebih bagus dibuat 2 part. Yosh!! Saya tunggu Harry Potter and the Deathly Hollow.
 

doremii dori! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea