Tampilkan postingan dengan label review buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review buku. Tampilkan semua postingan

5.14.2011

Pembunuhan di Sungai Nil — Death on The Nile

Diposting oleh mii di 09.05 0 komentar
Linnet Ridgeway adalah wanita muda yang hidupnya nyaris sempurna. Dia kaya, punya wajah dan tubuh menawan, sehat, dan terkenal. Namun tidak semua orang menyukainya. Banyak wanita-wanita lain di dunia yang iri padanya. Sehingga meski dipuja, Linnet juga dikelilingi oleh orang-orang yang memendam rasa benci.

Terlebih-lebih oleh Jacqueline de Bellefort, seorang teman akrab Linnet. Gadis ini sakit hati dan kecewa setengah mati pada Linnet, setelah tunangannya yang bernama Simon Doyle 'direbut' oleh sahabatnya itu. Linnet menikahi Simon, padahal Simon hanya seorang pemuda miskin. Linnet juga tahu bahwa Jackie cinta mati pada Simon. Tapi gadis itu tak peduli.

Setelah menikah, Linnet dan Simon berbulan madu ke Mesir. Mereka mengikuti tur di atas Sungai Nil dengan sebuah kapal mewah. Seharusnya ini adalah saat-saat membahagiakan untuk Linnet. Tapi tidak. Di sana mereka bertemu Jackie. Gadis itu meneror dengan mengikuti pasangan pengantin baru itu ke manapun mereka pergi. Jackie juga membawa pistol, mengancam akan menembak kepala Linnet. Hercule Poirot yang kebetulan ikut dalam tur tersebut, dimintai tolong oleh Linnet untuk menyelesaikan masalahnya. Setelah mendengar keluh-kesah Linnet, Poirot kemudian menemui Jackie dan menasihatinya. Namun Jacki tidak mau dengar. Dia tetap akan melakukan teror itu, dan suatu saat pasti akan menembak kepala Linnet.

Suatu malam, saat Poirot merasa ngantuk sekali sehingga dia cepat tidur, terjadilah insiden pertengkaran antara Simon dan Jackie. Gadis itu dalam keadaan mabuk menembak kaki Simon. Setelah itu terjadi, dia seolah jadi gila, dan menyesali perbuatannya. Dan pada pagi harinya, Linnet ditemukan tewas di kabinnya, dengan luka tembak di kepala. Di dinding dekat dia berbaring, tertulis huruf J dengan darah. Saat Poirot memeriksa jari Linnet, ada darah di sana. Mungkinkah ucapan yang pernah dikatakan Jackie bahwa dia ingin membunuh Linnet itu benar-benar dilakukannya?

Dan Mosieur Hercule Poirot mulai beraksi...

Satu lagi misteri yang sangat mengesankan dalam buku Madam Christie. Kali ini bukan lagi di London, melainkan Mesir. Dengan setting tempat yang tidak biasa, sambil mengikuti alur ceritanya aku berasa terlibat dalam tur di atas Sungai Nil itu. Mengesankan! (jadi pengen ke Mesir juga).

Diawali dengan plot yang terpisah-pisah, setting yang berbeda, serta tokoh-tokoh yang berbeda pula. Di masing-masing plot, setiap tokoh punya latar belakang berbeda-beda namun masih tetap terhubung dengan benang merah cerita ini; Linnet Ridgeway. Di cerita ini terlibat banyak tokoh yang awalnya (jujur) bikin aku bingung. Tapi di situlah hebatnya Madam Christie, dia mampu menciptakan karakter yang nggak sama satu dengan yang lainnya. Walaupun satu tokoh itu perannya nggak begitu penting, tapi tokoh itu punya satu ciri yang bisa membuatnya beda dari karakter lain. Salah satu yang membuat aku kagum sama Madam Christie. Dan kurasa hampir semua bukunya melibatkan banyak tokoh (sejauh yang udah pernah kubaca).

Berikutnya, aku masih suka sama cara Madam Christie mendeskripsikan tokoh-tokohnya, terutama Hercule Poirot. Trademark-nya tetap bertahan; lelaki kecil/pendek, kumisnya yang luar biasa (lebat dan melengkung ke atas dengan unik), matanya yang (melebar) seperti mata kucing, lincah, dan satu yang paling utama—sikap sombongnya yang luar biasa.

Kembali ke cerita, seperti buku-buku Madam Christie yang sudah-sudah, akhir dari misteri pembunuhan ini nggak pernah bisa ketebak atau disangka-sangka. Selalu di luar dugaan. Seorang tokoh yang rasanya mustahil atau (sengaja) diposisikan pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk dijadikan tersangka, pada akhirnya dialah pelakunya. Dan lagi, dalam misteri kali ini nggak hanya terpaku pada satu pembunuhan, ada dua pembunuhan menyusul yang bikin jantung berdebar!

Penasaran? Buruan baca. Atau sudah? Mau berdiskusi? :)


gambar: gpu.co.id

3.01.2011

24 Wajah Billy

Diposting oleh mii di 22.45 0 komentar
Dua puluh empat orang hidup dalam satu tubuh. Percayakah? Membayangkannya saja mungkin nggak pernah…

Tapi ini benar-benar nyata, dialami oleh seorang pemuda Amerika bernama William Stanley Milligan. Dalam tubuh Billy—nama kecilnya—hidup 23 “orang” yang berbeda. Masing-masing pribadi itu memiliki karakter yang berbeda, keterampilan dan bakat yang berbeda, keinginan dan ambisi berbeda, serta kelemahan yang berbeda.

Ada Arthur, si pemuda Inggris yang angkuh dan cerdas, yang lebih sering menjadi pemimpin. Ragen, pemuda asal Yugoslavia, bertubuh kuat dan ahli menggunakan senjata, cinta anak-anak dan tidak bisa menyakiti wanita. Allen, si pintar bicara, yang selalu mengambil peran saat Billy berinteraksi dengan “dunia luar”. Tommy, remaja yang suka bicara kasar dan antisosial, hanya tertarik pada elektronika dan jago melepaskan diri dari segala ikatan dan kunci. Adalana, cewek lesbian yang suka memasak dan beres-beres rumah. Kevin, perencana perampok toko obat. Philip, si penjahat kelas teri. Serta pribadi-pribadi lain yang masing-masing berbeda usia dan karakter.

Semua pribadi itu terpisah menjadi dua bagian: tokoh yang diinginkan dan yang tidak diinginkan. Itu istilah yang dipakai Arthur. “Orang-orang” yang tidak berguna dan kehadirannya hanya merugikan dicap sebagai “tokoh yang tidak diinginkan” dan tidak boleh menempati kesadaran untuk selama-lamanya. Arthur mendeskripsikan kesadaran atau yang biasa dia sebut dengan “tempat utama” sebagai panggung yang disoroti cahaya lampu. Siapapun tokoh yang berdiri dalam sorot cahaya lampu itu, adalah tokoh yang menguasai kesadaran dan berhadapan dengan dunia luar.

Billy tak menyadari kehadiran 23 “orang” itu dalam dirinya. Dia hanya merasa selalu kehilangan waktu dan tidak tahu apa yang sudah dia lakukan, seolah tidur sambil berjalan. Setiap kali dia membuka mata, orang-orang di sekelilingnya marah, kemudian menghukumnya atas kesalahan yang (dia rasa) tidak dilakukannya—karena saat melakukan kesalahan itu yang menguasai kesadaran adalah tokoh lain. Ini membuat kondisi kejiwaan Billy semakin memburuk. Dia bahkan beberapa kali mencoba bunuh diri, karena Billy pikir dirinya bisa membahayakan orang lain tanpa dia sadari.

Karenanya Arthur mengambil alih. Para tokoh dalam tubuh Billy sepakat menidurkan Billy (sosok inti pemilik tubuh), untuk mencegah percobaan bunuh diri lagi. Dan selama kurang lebih 7 tahun para tokoh itu bergantian menempati “tempat utama” untuk bertahan hidup. Kesempatan mereka di tempat utama digilirkan sesuai keadaan dan keterampilan masing-masing. Yang wanita bertugas membereskan rumah dan memasak, anak-anak boleh bermain dan mengasah bakat masing-masing, dan yang kuat melindungi di saat bahaya. Mereka sudah seperti sebuah “keluarga”—yang hidup dalam satu tubuh. Untuk menjaga rahasia keberadaan mereka dari dunia luar, tiap pribadi harus tetap menyahut meskipun dipanggil dengan nama “Billy”.

Namun keteraturan itu tidak berlangsung lama. Ada masa-masa dimana mereka mengalami “campur baur”, dan ini disebut “masa kacau balau”. Tokoh-tokoh yang menguasai kesadaran masuk silih-berganti tanpa bisa dikendalikan oleh Arthur maupun Ragen. Dan saat masa ini berlangsung tiap tokoh sulit berkomunikasi dengan tokoh lainnya, membuat situasi semakin tak terkendali, sehingga para “tokoh yang tidak diinginkan” mencuri kesempatan dan memungkinkan terjadinya tindakan kriminal yang susah payah mereka hindari.

Kasus perampokan dan pemerkosaan 3 wanita dari Ohio State University (OSU) menyeret Billy ke penjara. Selama proses penyelidikan, tidak sedikitpun Billy mengaku, selain bersikap ganjil dengan berkelakuan seperti anak kecil. Dan pada kesempatan lain Billy berkata-kata kurang ajar menghina para polisi, kemudian menjadi pemuda ketakutan dan linglung dengan lutut gemetar. Semua tingkahnya itu dianggap sandiwara, karena bukti-bukti yang ditemukan di apartemennya menguatkan tuduhan itu. Namun sikapnya yang ganjil mengundang rasa penasaran pengacaranya. Atas permintaan pengacara itu, dilakukan pemeriksaan terhadap kejiwaan Billy oleh seorang psikolog. Dan sejak saat itu terungkaplah bahwa tersangka perampok dan pemerkosa, Billy Milligan, adalah seorang berkepribadian ganda!

Buku 24 Wajah Billy ini adalah karya yang ingin dibuat oleh Billy sendiri, yang ditulis oleh Daniel Keyes. Setelah Billy mencapai tahap terfusi (peleburan seluruh karakter menjadi satu), dia ingin masyarakat tahu bagaimana penderitaannya selama ini.

“Orang-orang” yang hidup dalam tubuh Billy tidak selamanya merugikan orang lain. Mereka memiliki pengalaman mengesankan; yang menyenangkan, yang lucu (sampai membuat aku ketawa karena tingkah salah satu tokoh), sampai pengalaman yang mengharukan. Banyak dari karakter itu yang bersifat dasar pemurah dan baik hati terhadap orang lain, terutama Ragen. Dia seperti Robin Hood, pernah merampok seorang parlente dan menyerahkan uang hasil rampokannya pada dua orang anak gelandangan. Tommy juga pernah sungguh-sungguh mencintai seorang gadis. Allen bahkan pernah mengubah nasib napi anak-anak tertindas di suatu lembaga pemasyarakatan untuk anak-anak dengan mengajukan protes pada petingginya soal peraturan di sana. Beberapa di antara tokoh itu pandai melukis, dan hasil penjualan lukisannya disumbangkan pada sebuah lembaga perlindungan anak dari kekerasan.

Penulisnya, Daniel Keyes, secara rinci menjabarkan kisah sang pemuda berkepribadian ganda ini. Seluruhnya dijabarkan berdasarkan fakta yang ada dan sesuai kronologi. Di dalam buku ini, kita akan mengerti bagaimana menderitanya Billy menjalani hari-hari sebagai tersangka kasus perampokan dan pemerkosaan. Serta keinginannya untuk sembuh dan hidup normal layaknya manusia lainnya.

Buku yang sangat aku rekomendasiin buat kamu baca. Membuka wawasan, dan membuka cara pandangmu terhadap orang-orang seperti Billy, bahkan terhadap dirimu sendiri!

2.20.2011

Perfume: The Story of a Murderer

Diposting oleh mii di 00.36 0 komentar
Tentang seorang pemuda berbakat nan genius yang punya obsesi gila. Dengan bakat yang dimilikinya sejak lahir, dia merasa menjadi makhluk yang paling istimewa, dan dengan bakatnya dia terobsesi menciptakan hasil karya luar biasa yang tidak akan pernah tertandingi oleh karya manapun.

Pemuda itu bernama Jean-Baptiste Grenouille. Di kota Paris yang penuh dengan bermacam-macam bau, dia justru lahir tanpa bau tubuh. Yang membuatnya semakin istimewa adalah indera penciuman yang lebih tajam dari manusia manapun. Dia mampu mengingat ribuan—bahkan jutaan aroma. Grenouille tak perlu menggunakan mata, dia mampu melangkah dalam gelap sekalipun hanya dengan petunjuk bau yang diresapi hidung-ajaibnya.

Grenouille tahu hidungnya memiliki keistimewaan. Semenjak menguasai seni meramu parfum dari seorang ahli parfum ternama di Paris saat itu, Grenouille mulai terobsesi untuk menciptakan parfum yang aromanya tidak akan pernah tertandingi oleh parfum manapun. Dia tahu aroma apa yang akan menyempurnakan parfumnya. Aroma perawan!

Patrick Süskind merangkai cerita Si Kutu Psikopat ini (begitu dia menyebut sang genius) dalam plot-plot yang mengalir. Dikisahkan mulai dari awal hidup Grenouille, bagaimana dia tumbuh, bagaimana bakatnya berkembang, sampai pada puncak kegilaan si genius. Semua dituturkan dalam diksi yang sangat kaya akan imajinasi namun rasional. Pikir deh betapa cerdasnya Süskind saat mendeskripsikan bagaimana aroma bayi (saya sendiri nggak tahu kalau manusia itu punya aroma-aroma tertentu—seperti susu atau keju basi, misalnya). Di sini seolah Süskind membuat kita percaya bahwa aroma bayi adalah seperti bau karamel. Itu hanya salah satu contoh dari diksinya tentang bau-bauan. Belum lagi saat dia mendeskripsikan aroma perawan. Mungkin bahasa yang dipakainya terlalu sensasional. Namun begitu, kita jadi paham bagaimana seorang Grenouille yang diberkahi indera penciuman (yang bisa dikatakan) “sempurna” tergila-gila hingga membuatnya terobsesi untuk menjadikannya parfum. Man! Saya sangat menyukai pembentukan karakter Grenouille. Süskind menuliskannya dengan begitu apik, jelas; perlahan-lahan hingga menjadi karakter utuh yang kuat.

Secara keseluruhan, Perfume bisa dikatakan bagus. Apalagi novel ini sudah menjadi international bestseller. Menurut saya, ceritanya bisa lebih menarik jika sang penulis tidak hanya menekankan kejeniusan-menyimpang Grenouille saja. Plot-plot perburuan-perawan kurang mendapat sentuhan yang lebih kuat. Harusnya di sini yang menjadi puncak kengerian buku ini. (Tapi sebenarnya dengan yang sudah ada saja saya sudah cukup bergidik ngeri xD). Süskind mengakhiri cerita dengan cukup bijaksana. Yah… mungkin jauh dari yang saya harapkan. Namun cukup pantas menjadi akhir kisah dari seorang genius-menyimpang seperti Grenouille. Sebuah akhir yang tidak akan pernah kau sangka-sangka. So, don’t you stop reading till the last page!


pic from dastanbooks.com

3.28.2010

N or M?

Diposting oleh mii di 20.45 0 komentar
Novel keren lainnya dari Madam Agatha Christie! Masih dalam jalurnya, cerita misteri, namun kali ini tokoh yang jadi karakter utama dalam novel ini bukan Hercule Poirot. Pak Kumis itu justru sama sekali nggak muncul namanya di sini. Yang berperan di seri ini adalah Tommy dan Tuppence Beresford. Mereka adalah pasangan suami-istri yang bekerja untuk pemerintah Inggris sebagai mata-mata.

Setelah keduanya pensiun, mereka cuma disibukkan sama pekerjaan yang sebenernya nggak terlalu mereka suka. Seperti misalnya Tuppence cuma menghabiskan waktu dengan merajut di rumah, sementara Tommy kesana-kemari nawarin jasanya di lembaga pemerintahan yang saat itu cuma membutuhkan tenaga orang-orang muda.

Di tengah keputus-asaan mereka akan hari tua yang membosankan dan keinginan untuk kembali dipakai tenaganya oleh pemerintah, datang seorang utusan dari mantan atasan mereka, Mr. Grant, meminta mereka menjalankan misi rahasia, yakni memata-matai orang-orang di pondokan terpencil di tepi pantai bernama San Souci. Orang-orang itu memang nampak seperti orang tak berdosa. Namun dua di antaranya merupakan agen kepercayaan Hitler yang diutusnya untuk membangun kekuatan di Inggris, yang disebut dengan N untuk laki-laki dan M untuk wanita. Tommy dan Tuppence ditugaskan untuk melacak keduanya, siapa N dan M di antara orang-orang itu sebelum gerakan penyerangan pada Inggris benar-benar dilancarkan.

Sementara makin dipusingkan dengan dugaan-dugaan bahwa orang-orang di San Souci jauh dari kesan seorang mata-mata, Tommy dan Tuppence harus menghadapi penculikan dan pembunuhan akibat kelengahan mereka. Mulai dari situlah keduanya mencium adanya rencana jahat, dan mulai menduga-duga identitas N dan M yang menjadi target mereka.

Two thumbs up buat novel ini! Keren! Nggak pernah kehilangan kesan menegangkannya di sepanjang cerita, dan bikin pembaca seolah nggak mau melepas mata dari tiap halamannya. Juga masih ditulis dengan gaya Madam Christie yang khas dengan dialog panjang, dan sentilan-sentilan humor di dalamnya. Dan yang paling menonjol dalam cerita ini ya duo mata-mata kita, Tommy dan Tuppence. Gue langsung jatuh cinta sama pasangan spy ini. Agaknya sih mereka mirip tokoh Mr. and Mrs. Smith (Brad Pitt-Angelina Jolie) dalam film yang berjudul sama. Tapi karakter spy punya Madam Christie yang tentunya lahir lebih dulu ini lebih kompak, dan seolah nggak bisa terpisah satu sama lainnya. Dan lebih gokil. Kalau boleh diibaratkan, mungkin mereka bisa jadi versi tuanya Mr. and Mrs. Smith, dan di kepala gue kebayang tuanya Jolie-Pitt XD

So, buat para penggemar cerita misteri apalagi cerita mata-mata, “N or M” ini bacaan paling tepat yang gue rekomendasiin.

11.22.2009

Third Girl – Gadis Ketiga

Diposting oleh mii di 17.37 0 komentar
Novel ini adalah salah satu serial misteri Hercule Poirot yang ditulis Agatha Christie. Hercule Poirot adalah seorang mantan polisi Belgia yang menjadi detektif swasta, berperawakan kecil dan berkumis tebal. Sifatnya yang khas adalah selalu membanggakan kumisnya sama seperti membanggakan otak cerdasnya.

Dalam buku ini, dikisahkan Poirot mendapatkan kasus pembunuhan yang melibatkan seorang gadis, dibantu oleh Ariadne Oliver, seorang wanita paruh baya, pengarang novel detektif. Suatu hari di saat Poirot tengah menyantap sarapan paginya, seorang gadis muda yang berusia 20-an datang padanya dan mengaku telah membunuh seseorang. Dan kemudian gadis ini menghilang, sementara pembunuhan yang dikatakannya itu sama sekali tidak jelas; tidak diketahui siapa yang dibunuh, kapan dan di mana terjadinya, dan mengapa.

Poirot bersama Mrs. Oliver berusaha memecahkan kasus ini. Bersamaan dengan penyelidikannya, Poirot perlahan-lahan menemukan skandal besar di balik kasus tersebut, kasus yang melibatkan cukup banyak orang yang masing-masing saling berhubungan. Dan untuk memecahkan kasus ini, satu-satunya cara adalah dengan menemukan gadis yang menghilang itu, yang disebut dengan Gadis Ketiga.

Third Girl adalah novel misteri Hercule Poirot kedua yang saya koleksi. Sebelumnya saya punya Murder on the Orient Express. Yang saya beli adalah cetakan baru, dengan desain sampul yang sama sekali berbeda dengan cetakan lama; yang sekarang warnanya dibuat lebih kalem (dominan dengan putih, keemasan, dan hitam), cukup kontras dengan warna sampul cetakan lama yang berwarna lebih keras (merah ataupun hitam) yang memberikan kesan misterius.

Cerita detektif dalam Third Girl ini berlatar belakang kota London tahun 60-an (memang ditulis dan terbit pada tahun sekian), tempat Poirot berkerja sebagai detektif swasta. Ya, kayak cerita di seri Murder on the Orient Express, dalam cerita ini Agatha Christie senang memakai banyak tokoh dalam ceritanya. Dan tokoh-tokoh itu punya karakter kuat. Dan di buku ini, Christie memasukan sedikit unsur humor, membuat saya nggak bosen membacanya. Tapi, mungkin juga karena begitu banyaknya tokoh, bikin pembaca agak susah untuk mengikuti kasusnya. Meskipun alurnya lambat, tapi nggak membosankan. Christie menyelipkan kejutan-kejutan di tiap chapternya, yang bikin kita nggak mau ngelepas satu halamanpun. Dan tentu aja, kejutan terbesarnya ada di akhir cerita. Bagi pembaca yang udah nebak siapa pelakunya, bagaimana kira-kira kronologinya, siap-siaplah menerima kebenaran kasus yang (biasanya) kemungkinan besar meleset dari perkiraan Anda! (ini sih saya banget) XD

Overall, saya bilang buku ini bagus. Apalagi buat para pecinta cerita misteri, saya rekomendasikan buat menjadikannya koleksi. Saya sendiri pun masih berniat menambah dengan seri Hercule Poirot yang lain. ^^
Tampilkan postingan dengan label review buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review buku. Tampilkan semua postingan

5.14.2011

Pembunuhan di Sungai Nil — Death on The Nile

Diposting oleh mii di 09.05 0 komentar
Linnet Ridgeway adalah wanita muda yang hidupnya nyaris sempurna. Dia kaya, punya wajah dan tubuh menawan, sehat, dan terkenal. Namun tidak semua orang menyukainya. Banyak wanita-wanita lain di dunia yang iri padanya. Sehingga meski dipuja, Linnet juga dikelilingi oleh orang-orang yang memendam rasa benci.

Terlebih-lebih oleh Jacqueline de Bellefort, seorang teman akrab Linnet. Gadis ini sakit hati dan kecewa setengah mati pada Linnet, setelah tunangannya yang bernama Simon Doyle 'direbut' oleh sahabatnya itu. Linnet menikahi Simon, padahal Simon hanya seorang pemuda miskin. Linnet juga tahu bahwa Jackie cinta mati pada Simon. Tapi gadis itu tak peduli.

Setelah menikah, Linnet dan Simon berbulan madu ke Mesir. Mereka mengikuti tur di atas Sungai Nil dengan sebuah kapal mewah. Seharusnya ini adalah saat-saat membahagiakan untuk Linnet. Tapi tidak. Di sana mereka bertemu Jackie. Gadis itu meneror dengan mengikuti pasangan pengantin baru itu ke manapun mereka pergi. Jackie juga membawa pistol, mengancam akan menembak kepala Linnet. Hercule Poirot yang kebetulan ikut dalam tur tersebut, dimintai tolong oleh Linnet untuk menyelesaikan masalahnya. Setelah mendengar keluh-kesah Linnet, Poirot kemudian menemui Jackie dan menasihatinya. Namun Jacki tidak mau dengar. Dia tetap akan melakukan teror itu, dan suatu saat pasti akan menembak kepala Linnet.

Suatu malam, saat Poirot merasa ngantuk sekali sehingga dia cepat tidur, terjadilah insiden pertengkaran antara Simon dan Jackie. Gadis itu dalam keadaan mabuk menembak kaki Simon. Setelah itu terjadi, dia seolah jadi gila, dan menyesali perbuatannya. Dan pada pagi harinya, Linnet ditemukan tewas di kabinnya, dengan luka tembak di kepala. Di dinding dekat dia berbaring, tertulis huruf J dengan darah. Saat Poirot memeriksa jari Linnet, ada darah di sana. Mungkinkah ucapan yang pernah dikatakan Jackie bahwa dia ingin membunuh Linnet itu benar-benar dilakukannya?

Dan Mosieur Hercule Poirot mulai beraksi...

Satu lagi misteri yang sangat mengesankan dalam buku Madam Christie. Kali ini bukan lagi di London, melainkan Mesir. Dengan setting tempat yang tidak biasa, sambil mengikuti alur ceritanya aku berasa terlibat dalam tur di atas Sungai Nil itu. Mengesankan! (jadi pengen ke Mesir juga).

Diawali dengan plot yang terpisah-pisah, setting yang berbeda, serta tokoh-tokoh yang berbeda pula. Di masing-masing plot, setiap tokoh punya latar belakang berbeda-beda namun masih tetap terhubung dengan benang merah cerita ini; Linnet Ridgeway. Di cerita ini terlibat banyak tokoh yang awalnya (jujur) bikin aku bingung. Tapi di situlah hebatnya Madam Christie, dia mampu menciptakan karakter yang nggak sama satu dengan yang lainnya. Walaupun satu tokoh itu perannya nggak begitu penting, tapi tokoh itu punya satu ciri yang bisa membuatnya beda dari karakter lain. Salah satu yang membuat aku kagum sama Madam Christie. Dan kurasa hampir semua bukunya melibatkan banyak tokoh (sejauh yang udah pernah kubaca).

Berikutnya, aku masih suka sama cara Madam Christie mendeskripsikan tokoh-tokohnya, terutama Hercule Poirot. Trademark-nya tetap bertahan; lelaki kecil/pendek, kumisnya yang luar biasa (lebat dan melengkung ke atas dengan unik), matanya yang (melebar) seperti mata kucing, lincah, dan satu yang paling utama—sikap sombongnya yang luar biasa.

Kembali ke cerita, seperti buku-buku Madam Christie yang sudah-sudah, akhir dari misteri pembunuhan ini nggak pernah bisa ketebak atau disangka-sangka. Selalu di luar dugaan. Seorang tokoh yang rasanya mustahil atau (sengaja) diposisikan pada kondisi yang tidak memungkinkan untuk dijadikan tersangka, pada akhirnya dialah pelakunya. Dan lagi, dalam misteri kali ini nggak hanya terpaku pada satu pembunuhan, ada dua pembunuhan menyusul yang bikin jantung berdebar!

Penasaran? Buruan baca. Atau sudah? Mau berdiskusi? :)


gambar: gpu.co.id

3.01.2011

24 Wajah Billy

Diposting oleh mii di 22.45 0 komentar
Dua puluh empat orang hidup dalam satu tubuh. Percayakah? Membayangkannya saja mungkin nggak pernah…

Tapi ini benar-benar nyata, dialami oleh seorang pemuda Amerika bernama William Stanley Milligan. Dalam tubuh Billy—nama kecilnya—hidup 23 “orang” yang berbeda. Masing-masing pribadi itu memiliki karakter yang berbeda, keterampilan dan bakat yang berbeda, keinginan dan ambisi berbeda, serta kelemahan yang berbeda.

Ada Arthur, si pemuda Inggris yang angkuh dan cerdas, yang lebih sering menjadi pemimpin. Ragen, pemuda asal Yugoslavia, bertubuh kuat dan ahli menggunakan senjata, cinta anak-anak dan tidak bisa menyakiti wanita. Allen, si pintar bicara, yang selalu mengambil peran saat Billy berinteraksi dengan “dunia luar”. Tommy, remaja yang suka bicara kasar dan antisosial, hanya tertarik pada elektronika dan jago melepaskan diri dari segala ikatan dan kunci. Adalana, cewek lesbian yang suka memasak dan beres-beres rumah. Kevin, perencana perampok toko obat. Philip, si penjahat kelas teri. Serta pribadi-pribadi lain yang masing-masing berbeda usia dan karakter.

Semua pribadi itu terpisah menjadi dua bagian: tokoh yang diinginkan dan yang tidak diinginkan. Itu istilah yang dipakai Arthur. “Orang-orang” yang tidak berguna dan kehadirannya hanya merugikan dicap sebagai “tokoh yang tidak diinginkan” dan tidak boleh menempati kesadaran untuk selama-lamanya. Arthur mendeskripsikan kesadaran atau yang biasa dia sebut dengan “tempat utama” sebagai panggung yang disoroti cahaya lampu. Siapapun tokoh yang berdiri dalam sorot cahaya lampu itu, adalah tokoh yang menguasai kesadaran dan berhadapan dengan dunia luar.

Billy tak menyadari kehadiran 23 “orang” itu dalam dirinya. Dia hanya merasa selalu kehilangan waktu dan tidak tahu apa yang sudah dia lakukan, seolah tidur sambil berjalan. Setiap kali dia membuka mata, orang-orang di sekelilingnya marah, kemudian menghukumnya atas kesalahan yang (dia rasa) tidak dilakukannya—karena saat melakukan kesalahan itu yang menguasai kesadaran adalah tokoh lain. Ini membuat kondisi kejiwaan Billy semakin memburuk. Dia bahkan beberapa kali mencoba bunuh diri, karena Billy pikir dirinya bisa membahayakan orang lain tanpa dia sadari.

Karenanya Arthur mengambil alih. Para tokoh dalam tubuh Billy sepakat menidurkan Billy (sosok inti pemilik tubuh), untuk mencegah percobaan bunuh diri lagi. Dan selama kurang lebih 7 tahun para tokoh itu bergantian menempati “tempat utama” untuk bertahan hidup. Kesempatan mereka di tempat utama digilirkan sesuai keadaan dan keterampilan masing-masing. Yang wanita bertugas membereskan rumah dan memasak, anak-anak boleh bermain dan mengasah bakat masing-masing, dan yang kuat melindungi di saat bahaya. Mereka sudah seperti sebuah “keluarga”—yang hidup dalam satu tubuh. Untuk menjaga rahasia keberadaan mereka dari dunia luar, tiap pribadi harus tetap menyahut meskipun dipanggil dengan nama “Billy”.

Namun keteraturan itu tidak berlangsung lama. Ada masa-masa dimana mereka mengalami “campur baur”, dan ini disebut “masa kacau balau”. Tokoh-tokoh yang menguasai kesadaran masuk silih-berganti tanpa bisa dikendalikan oleh Arthur maupun Ragen. Dan saat masa ini berlangsung tiap tokoh sulit berkomunikasi dengan tokoh lainnya, membuat situasi semakin tak terkendali, sehingga para “tokoh yang tidak diinginkan” mencuri kesempatan dan memungkinkan terjadinya tindakan kriminal yang susah payah mereka hindari.

Kasus perampokan dan pemerkosaan 3 wanita dari Ohio State University (OSU) menyeret Billy ke penjara. Selama proses penyelidikan, tidak sedikitpun Billy mengaku, selain bersikap ganjil dengan berkelakuan seperti anak kecil. Dan pada kesempatan lain Billy berkata-kata kurang ajar menghina para polisi, kemudian menjadi pemuda ketakutan dan linglung dengan lutut gemetar. Semua tingkahnya itu dianggap sandiwara, karena bukti-bukti yang ditemukan di apartemennya menguatkan tuduhan itu. Namun sikapnya yang ganjil mengundang rasa penasaran pengacaranya. Atas permintaan pengacara itu, dilakukan pemeriksaan terhadap kejiwaan Billy oleh seorang psikolog. Dan sejak saat itu terungkaplah bahwa tersangka perampok dan pemerkosa, Billy Milligan, adalah seorang berkepribadian ganda!

Buku 24 Wajah Billy ini adalah karya yang ingin dibuat oleh Billy sendiri, yang ditulis oleh Daniel Keyes. Setelah Billy mencapai tahap terfusi (peleburan seluruh karakter menjadi satu), dia ingin masyarakat tahu bagaimana penderitaannya selama ini.

“Orang-orang” yang hidup dalam tubuh Billy tidak selamanya merugikan orang lain. Mereka memiliki pengalaman mengesankan; yang menyenangkan, yang lucu (sampai membuat aku ketawa karena tingkah salah satu tokoh), sampai pengalaman yang mengharukan. Banyak dari karakter itu yang bersifat dasar pemurah dan baik hati terhadap orang lain, terutama Ragen. Dia seperti Robin Hood, pernah merampok seorang parlente dan menyerahkan uang hasil rampokannya pada dua orang anak gelandangan. Tommy juga pernah sungguh-sungguh mencintai seorang gadis. Allen bahkan pernah mengubah nasib napi anak-anak tertindas di suatu lembaga pemasyarakatan untuk anak-anak dengan mengajukan protes pada petingginya soal peraturan di sana. Beberapa di antara tokoh itu pandai melukis, dan hasil penjualan lukisannya disumbangkan pada sebuah lembaga perlindungan anak dari kekerasan.

Penulisnya, Daniel Keyes, secara rinci menjabarkan kisah sang pemuda berkepribadian ganda ini. Seluruhnya dijabarkan berdasarkan fakta yang ada dan sesuai kronologi. Di dalam buku ini, kita akan mengerti bagaimana menderitanya Billy menjalani hari-hari sebagai tersangka kasus perampokan dan pemerkosaan. Serta keinginannya untuk sembuh dan hidup normal layaknya manusia lainnya.

Buku yang sangat aku rekomendasiin buat kamu baca. Membuka wawasan, dan membuka cara pandangmu terhadap orang-orang seperti Billy, bahkan terhadap dirimu sendiri!

2.20.2011

Perfume: The Story of a Murderer

Diposting oleh mii di 00.36 0 komentar
Tentang seorang pemuda berbakat nan genius yang punya obsesi gila. Dengan bakat yang dimilikinya sejak lahir, dia merasa menjadi makhluk yang paling istimewa, dan dengan bakatnya dia terobsesi menciptakan hasil karya luar biasa yang tidak akan pernah tertandingi oleh karya manapun.

Pemuda itu bernama Jean-Baptiste Grenouille. Di kota Paris yang penuh dengan bermacam-macam bau, dia justru lahir tanpa bau tubuh. Yang membuatnya semakin istimewa adalah indera penciuman yang lebih tajam dari manusia manapun. Dia mampu mengingat ribuan—bahkan jutaan aroma. Grenouille tak perlu menggunakan mata, dia mampu melangkah dalam gelap sekalipun hanya dengan petunjuk bau yang diresapi hidung-ajaibnya.

Grenouille tahu hidungnya memiliki keistimewaan. Semenjak menguasai seni meramu parfum dari seorang ahli parfum ternama di Paris saat itu, Grenouille mulai terobsesi untuk menciptakan parfum yang aromanya tidak akan pernah tertandingi oleh parfum manapun. Dia tahu aroma apa yang akan menyempurnakan parfumnya. Aroma perawan!

Patrick Süskind merangkai cerita Si Kutu Psikopat ini (begitu dia menyebut sang genius) dalam plot-plot yang mengalir. Dikisahkan mulai dari awal hidup Grenouille, bagaimana dia tumbuh, bagaimana bakatnya berkembang, sampai pada puncak kegilaan si genius. Semua dituturkan dalam diksi yang sangat kaya akan imajinasi namun rasional. Pikir deh betapa cerdasnya Süskind saat mendeskripsikan bagaimana aroma bayi (saya sendiri nggak tahu kalau manusia itu punya aroma-aroma tertentu—seperti susu atau keju basi, misalnya). Di sini seolah Süskind membuat kita percaya bahwa aroma bayi adalah seperti bau karamel. Itu hanya salah satu contoh dari diksinya tentang bau-bauan. Belum lagi saat dia mendeskripsikan aroma perawan. Mungkin bahasa yang dipakainya terlalu sensasional. Namun begitu, kita jadi paham bagaimana seorang Grenouille yang diberkahi indera penciuman (yang bisa dikatakan) “sempurna” tergila-gila hingga membuatnya terobsesi untuk menjadikannya parfum. Man! Saya sangat menyukai pembentukan karakter Grenouille. Süskind menuliskannya dengan begitu apik, jelas; perlahan-lahan hingga menjadi karakter utuh yang kuat.

Secara keseluruhan, Perfume bisa dikatakan bagus. Apalagi novel ini sudah menjadi international bestseller. Menurut saya, ceritanya bisa lebih menarik jika sang penulis tidak hanya menekankan kejeniusan-menyimpang Grenouille saja. Plot-plot perburuan-perawan kurang mendapat sentuhan yang lebih kuat. Harusnya di sini yang menjadi puncak kengerian buku ini. (Tapi sebenarnya dengan yang sudah ada saja saya sudah cukup bergidik ngeri xD). Süskind mengakhiri cerita dengan cukup bijaksana. Yah… mungkin jauh dari yang saya harapkan. Namun cukup pantas menjadi akhir kisah dari seorang genius-menyimpang seperti Grenouille. Sebuah akhir yang tidak akan pernah kau sangka-sangka. So, don’t you stop reading till the last page!


pic from dastanbooks.com

3.28.2010

N or M?

Diposting oleh mii di 20.45 0 komentar
Novel keren lainnya dari Madam Agatha Christie! Masih dalam jalurnya, cerita misteri, namun kali ini tokoh yang jadi karakter utama dalam novel ini bukan Hercule Poirot. Pak Kumis itu justru sama sekali nggak muncul namanya di sini. Yang berperan di seri ini adalah Tommy dan Tuppence Beresford. Mereka adalah pasangan suami-istri yang bekerja untuk pemerintah Inggris sebagai mata-mata.

Setelah keduanya pensiun, mereka cuma disibukkan sama pekerjaan yang sebenernya nggak terlalu mereka suka. Seperti misalnya Tuppence cuma menghabiskan waktu dengan merajut di rumah, sementara Tommy kesana-kemari nawarin jasanya di lembaga pemerintahan yang saat itu cuma membutuhkan tenaga orang-orang muda.

Di tengah keputus-asaan mereka akan hari tua yang membosankan dan keinginan untuk kembali dipakai tenaganya oleh pemerintah, datang seorang utusan dari mantan atasan mereka, Mr. Grant, meminta mereka menjalankan misi rahasia, yakni memata-matai orang-orang di pondokan terpencil di tepi pantai bernama San Souci. Orang-orang itu memang nampak seperti orang tak berdosa. Namun dua di antaranya merupakan agen kepercayaan Hitler yang diutusnya untuk membangun kekuatan di Inggris, yang disebut dengan N untuk laki-laki dan M untuk wanita. Tommy dan Tuppence ditugaskan untuk melacak keduanya, siapa N dan M di antara orang-orang itu sebelum gerakan penyerangan pada Inggris benar-benar dilancarkan.

Sementara makin dipusingkan dengan dugaan-dugaan bahwa orang-orang di San Souci jauh dari kesan seorang mata-mata, Tommy dan Tuppence harus menghadapi penculikan dan pembunuhan akibat kelengahan mereka. Mulai dari situlah keduanya mencium adanya rencana jahat, dan mulai menduga-duga identitas N dan M yang menjadi target mereka.

Two thumbs up buat novel ini! Keren! Nggak pernah kehilangan kesan menegangkannya di sepanjang cerita, dan bikin pembaca seolah nggak mau melepas mata dari tiap halamannya. Juga masih ditulis dengan gaya Madam Christie yang khas dengan dialog panjang, dan sentilan-sentilan humor di dalamnya. Dan yang paling menonjol dalam cerita ini ya duo mata-mata kita, Tommy dan Tuppence. Gue langsung jatuh cinta sama pasangan spy ini. Agaknya sih mereka mirip tokoh Mr. and Mrs. Smith (Brad Pitt-Angelina Jolie) dalam film yang berjudul sama. Tapi karakter spy punya Madam Christie yang tentunya lahir lebih dulu ini lebih kompak, dan seolah nggak bisa terpisah satu sama lainnya. Dan lebih gokil. Kalau boleh diibaratkan, mungkin mereka bisa jadi versi tuanya Mr. and Mrs. Smith, dan di kepala gue kebayang tuanya Jolie-Pitt XD

So, buat para penggemar cerita misteri apalagi cerita mata-mata, “N or M” ini bacaan paling tepat yang gue rekomendasiin.

11.22.2009

Third Girl – Gadis Ketiga

Diposting oleh mii di 17.37 0 komentar
Novel ini adalah salah satu serial misteri Hercule Poirot yang ditulis Agatha Christie. Hercule Poirot adalah seorang mantan polisi Belgia yang menjadi detektif swasta, berperawakan kecil dan berkumis tebal. Sifatnya yang khas adalah selalu membanggakan kumisnya sama seperti membanggakan otak cerdasnya.

Dalam buku ini, dikisahkan Poirot mendapatkan kasus pembunuhan yang melibatkan seorang gadis, dibantu oleh Ariadne Oliver, seorang wanita paruh baya, pengarang novel detektif. Suatu hari di saat Poirot tengah menyantap sarapan paginya, seorang gadis muda yang berusia 20-an datang padanya dan mengaku telah membunuh seseorang. Dan kemudian gadis ini menghilang, sementara pembunuhan yang dikatakannya itu sama sekali tidak jelas; tidak diketahui siapa yang dibunuh, kapan dan di mana terjadinya, dan mengapa.

Poirot bersama Mrs. Oliver berusaha memecahkan kasus ini. Bersamaan dengan penyelidikannya, Poirot perlahan-lahan menemukan skandal besar di balik kasus tersebut, kasus yang melibatkan cukup banyak orang yang masing-masing saling berhubungan. Dan untuk memecahkan kasus ini, satu-satunya cara adalah dengan menemukan gadis yang menghilang itu, yang disebut dengan Gadis Ketiga.

Third Girl adalah novel misteri Hercule Poirot kedua yang saya koleksi. Sebelumnya saya punya Murder on the Orient Express. Yang saya beli adalah cetakan baru, dengan desain sampul yang sama sekali berbeda dengan cetakan lama; yang sekarang warnanya dibuat lebih kalem (dominan dengan putih, keemasan, dan hitam), cukup kontras dengan warna sampul cetakan lama yang berwarna lebih keras (merah ataupun hitam) yang memberikan kesan misterius.

Cerita detektif dalam Third Girl ini berlatar belakang kota London tahun 60-an (memang ditulis dan terbit pada tahun sekian), tempat Poirot berkerja sebagai detektif swasta. Ya, kayak cerita di seri Murder on the Orient Express, dalam cerita ini Agatha Christie senang memakai banyak tokoh dalam ceritanya. Dan tokoh-tokoh itu punya karakter kuat. Dan di buku ini, Christie memasukan sedikit unsur humor, membuat saya nggak bosen membacanya. Tapi, mungkin juga karena begitu banyaknya tokoh, bikin pembaca agak susah untuk mengikuti kasusnya. Meskipun alurnya lambat, tapi nggak membosankan. Christie menyelipkan kejutan-kejutan di tiap chapternya, yang bikin kita nggak mau ngelepas satu halamanpun. Dan tentu aja, kejutan terbesarnya ada di akhir cerita. Bagi pembaca yang udah nebak siapa pelakunya, bagaimana kira-kira kronologinya, siap-siaplah menerima kebenaran kasus yang (biasanya) kemungkinan besar meleset dari perkiraan Anda! (ini sih saya banget) XD

Overall, saya bilang buku ini bagus. Apalagi buat para pecinta cerita misteri, saya rekomendasikan buat menjadikannya koleksi. Saya sendiri pun masih berniat menambah dengan seri Hercule Poirot yang lain. ^^
 

doremii dori! Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea